Gerakan Tenunkoe adalah sebuah gerakan untuk pemberdayaan perempuan di Nusa Tenggara Timur. Tenunkoe dimaksudkan untuk mengajak masyarakat luas berbagi kasih dengan kaum marginal khususnya perempuan di NTT dalam bentuk memberikan donasi untuk modal usaha, membeli produk-produk buah karya perempuan, menyumbangkan pemikiran untuk memajukan perempuan ataupun bentuk sumbangan lainnya.

Gerakan ini khususnya diperuntukan bagi perempuan yang kondisinya memprihatinkan, yaitu perempuan miskin, tidak mempunyai sumber pendapatan yang tetap, tingkat pendidikan yang masih rendah, kesehatan dan pemenuhan gizinya masih jauh dari ideal, serta tidak mempunyai kapasitas menyuarakan hak-haknya.

Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu propinsi termiskin di Indonesia, mempunyai problematika yang kompleks yang kesemuanya membentuk jaring-jaring kemiskinan. Jaring-jaring kemiskinan ini tak pelak juga menimpa kaum perempuan di NTT. Tingkat pendidikan yang rendah disertai dengan akses infromasi yang terbatas membuat kaum perempuan di NTT sulit untuk membangun kemandirian ekonomi. Sebenarnya banyak perempuan NTT yang mewarisi keahlian turun-temurun untuk membuat kain tenun khas NTT yang dengan segala keunikan dan keindahannya menjadi salah satu warisan budaya nasional.

Ketrampilan menenun adalah potensi yang dipunyai oleh sebagian besar perempuan NTT, dimana adat yang mengharuskan mereka mengenakan kain tenun pada saat mengikuti acara-acara adat menjadikan keberadaan kain tenun lestari. Potensi para perempuan NTT ini dapat menjadi modal untuk memberdayakan ekonomi mereka, yaitu kain tenun hasil karya mereka selain untuk acara adat dapat dikembangkan sebagai sebuah usaha. Akan tetapi, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan mereka, dikarenakan pengetahuan yang terbatas dalam hal pemasaran, akses modal, serta pengetahuan untuk melakukan modifikasi produk menjadi produk-produk yang lebih siap pakai.

Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Surakarta bekerjasama dengan SERT Consulting Jakarta serta mendapatkan dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) melalui Program Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU) memprakarsai gerakan ini dengan melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan marginal NTT, khususnya dalam bentuk penguatan kapasitas lewat memberikan pelatihan-pelatihan dan pendampingan yang berkaitan dengan pengelolaan usaha, meningkatkan akses pasar, dan menghubungkan dengan sumber dana.

3 Pillar Kegiatan Tenunkoe

  1. Penguatan Kapasitas melalui berbagai pelatihan: peningkatan kualitas tenun, pelatihan pengembangan produk inovatif berbasis tenun, serta pelatihan pengelolaan organisasi dan Koperasi
  2. Pembentukan Koperasi Rumah Tenunkoe sebagai entitas bisnis sosial yang dimiliki secara bersama oleh anggota Gerakan Tenunkoe
  3. Penyiapan akses pasar dan pengembangan produk berbasis teknologi digital dan crowdsourcing

Anggota dan Wilayah Kerja Gerakan Tenunkoe

Anggota Gerakan Tenunkoe saat ini berjumlah total 161 perempuan pengrajin tenun dan penjahit yang terbagi menjadi 8 kelompok, tersebar di beberapa desa dan kelurahan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Gerakan Tenunkoe dimulai dengan pengembangan usaha tenun dan produk-produk berbahan tenun di Desa Hueknutu Kecamatan Takari, Kelurahan Teunbaun dan Soba, Kecamatan Amarasi Barat, Desa Oesao Kecamatan Amarasi Tengah (Semua di Kabupaten Kupang), serta Kelurahan Manutapen Kecamatan Alak, Kota Kupang. Lokasi-lokasi kelompok tersebut dipilih untuk menjadi pilot project bagi gerakan ini, yang mana ke depan diharapkan dapat diperluas ke wilayah yang lain.