Kelompok Tokatbol adalah salah satu kelompok pengrajin tenun yang ada di Desa Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang-NTT. Kelompok ini berdiri pada akhir tahun 2012 dengan jumlah anggota awal berdiri sebanyak 20 orang dan setelah diresmikan pada tahun 2013 dengan anggota tetap 20 orang. Kata Tolkabot sendiri adalah gabungan dari kata-kata Tob Taeko Kake Tapatap BoyLopo yang merupakan gabungan dari nama-nama pejuang Desa Sillu. Perjalanan ke Desa Sillu dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 30 menit dari Kota Kupang.

Kelompok tokatbol diketuai oleh Mama Yumina Tob Kune. Berdirinya kelompok ini berawal dari kemampuan turun-menurun dalam menenun yang merupakan keahlian wajib yang harus dimiliki oleh perempuan di Desa Sillu dan niat untuk mewariskan kemampuan tersebut ke generasi perempuan yang lebih muda dan lebih menghasilkan secara ekonomi. Hampir semua rumah tangga di Desa Sillu mempunyai peralatan tenun. Selang beberapa waktu, Desa Sillu didatangi oleh beberapa pemerhati tenun dan kalangan pemerintah. Mereka memberikan beberapa pelatihan dan peralatan sehingga para perempuan di Desa Sillu memberanikian diri untuk membentuk kelompok tenun.

Produk unggulan tenun dari warna alam yang tidak luntur dan tebal, kemudian dengan motifnya yang khas dan sulit, menjadikan kain tenun yang dihasilkan oleh kelompok ini mempunyai positioning tersendiri. Motif Sotis dan Buna yang mereka miliki menjadi unggulan. Namun dari semua anggota kelompok hanya 1 orang yang mampu melakukan tenun Buna.

Mereka berkeinginan adanya perhatian dari pemerintah atau orang-orang untuk memperhatikan kelompok. Sehingga kelompok bisa maju dan berkembang sehingga kesejahteraan mereka meningkat. Walaupun dalam usianya yang masih tergolong muda, kelompok ini mempunyai keinginan untuk mempunyai rumah tenun. Karena selama ini mereka menenun menggunakan gedung Rumah Pintar yang sangat sempit dan kecil. Mereka akan melakukan pertemuan saat kegiatan putar benang atau Lolok Benang.

Selain itu sedikitnya peminat masyarakat lokal atau turis domestik menjadikan kendala terbesar yang selama ini mereka hadapi dalam pemasaran. Karena jika hanya mengandalkan turis mancanegara,  dalam satu tahun mereka hanya mendapat kujungan sekali dan hanya saat itulah kain tenun bisa laku terjual. Oleh karenanya, mereka berharap ada pihak-pihak yang mau memperhatikan kelompok tersebut.