Kelompok perempuan pengrajin tenun di Desa Hueknutu, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang ini dipimpin oleh Mama Rambu Berta Atabara (46 th). Kelompok perempuan pengrajin tenun ini mempunyai anggota sejumlah 21 orang. Desa Hueknutu dijangkau dari Kota Kupang dengan waktu tempuh sekitar 2-3 jam, dengan medan yang cukup berat. Desa ini sudah menikmati aliran listrik, akan tetapi masih terbatas dan hanya pada jam-jam tertentu saja. Di luar jam-jam tersebut, penduduk Desa Hueknutu menggunakan sumber listrik dari tenaga surya, namun kapasitas tenaga surya masih terbatas.

Kelompok ini masih menggunakan cara tradisional untuk membuat kain tenun dengan menggunakan peralatan manual. Akan tetapi, mereka telah menggunakan benang yang sudah berwarna buatan industri. Walaupun mereka menggunakan cara manual, mereka mempunyai ciri khas motif tenun yang dinamakan motif sotis. Motif ini merujuk pada cara penenunan yang menghasilkan efek benang timbul. Motif dasar yang mendominasi produk tenun mereka adalah motif Timor. Motif ini mempunyai corak warna yang atraktif, mengkombinasikan banyak warna mencolok dalam satu tenunan. Proses pengerjaan untuk 1 kain tenun membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan.

Dalam proses pembuatan tenun meskipun mereka masih menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana, namun kelompok Naubina ini sudah mulai berkreasi memadukan berbagai motif misalnya motif Ende dengan Soe, Soe dengan Sumba mapun motif-motif lainnya. Selain motif, mereka juga cukup berani memadukan warna-warna cerah sehingga tenun karya mereka bisa dikatagorikan mengikuti selera masyarakat luas. Namun, warna-warna kalem juga tetap dipakai untuk produksi tenun mereka yang dihasilkan dari pewarna alam, bahkan mereka juga memadukan antara warna alam dengan warna kimia yang hasilnya menjadi lebih cerah.

Saat ini para anggota kelompok Takari menenun untuk kegiatan sampingan disamping kegiatan pokok mereka di kebun. Mereka belum menjadikan kegiatan tenun sebagai kegiatan utama karena merasa bahwa kegiatan ini belum menguntungkan secara finansial, mengingat mereka selama ini tidak mempunyai akses ke pasar yang luas. Keterbatasan akses pasar menyebabkan tingkat penujualan mereka yang tidak menentu, rata-rata mereka hanya dapat menjual 1 kain dalam sebulan. Bahkan sering tidak satupun kain yang terjual dalam 1 bulan. Keterbatasan-keterbatasan inilah yang berusaha untuk diatasi oleh Gerakan Tenunkoe.

Dari perpaduan antara motif dan warna yang didukung dengan bahan baku berkualitas, kolompok ini telah menghasilkan produk tenun yang layak jual. Hanya saja yang menjadi kendala mereka selama ini adalah akses jalan, akses air, akses komunikasi, transportasi, permodalan, pemasaran dan diversifikasi produk. Mereka bermimpi bahwa kelompok bisa maju berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas sehingga kesejahteraan perempuan di Desa Hueknutu semakin meningkat