[gdlr_video url=”http://youtu.be/UvVV-LI8W-s” ]

Kaine’e adalah salah satu kelompok pengrajin tenun yang ada di Kelurahan Teunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang-NTT. Kelompok ini berdiri pada akhir tahun 2005 dengan jumlah anggota diawal berdiri sebanyak 8 orang dan saat ini jumlah anggotanya menjadi berjumlah 29 orang pengrajin tenun.

Kelompok Kaine’e ini diketuai oleh mama Keterina Nepa Rasi. Sejarah singkat berdirinya kelompok Kaine’e ini berdiri lebih banyak dikarenakan faktor individu dari mama Keterina, karena mama Keterina tidak bisa melakukan kegiatan menenun secara sendiri maka dibentuklah kelompok pengrajin tenun Kaine’e yang terdiri dari 8 orang mama-mama yang secara usia sudah cukup lanjut.

Produk unggulan tenun kelompok ini adalah tenun yang menggunakan warna alam yang tidak luntur dan tebal, kemudian dengan motifnya yang khas dan sulit yaitu motif Amarasi sehingga mempunyai nilai tawar yang lebih tinggi dibandingkan dengan tenun pada umumnya. Mereka mempunyai 64 motif tenun ikat dari Amarasi yang orang lain tidak bisa membuatnya. 64 motif tersebut mempunyai cerita masing-masing sehingga beberapa kali turis mancanegara tertarik membelinya.

Teknik yang digunakan oleh kelompok ini semuanya menggunakan teknik tradisional, dengan pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami. Akan tetapi, kelompok ini tidak memintal benang sendiri. Mereka membeli benang katun putih yang sudah jadi baru kemudian diurai dan diberi warna sendiri dengan bahan pewarna alami. Bahan-bahan pewarna yang digunakan antara lain mengkudu, kemiri, lobak, kulit nangka, dan kulit mangga. Setiap benang yang telah diuraikan dan diberi warna akan dijemur selama 100 jam untuk menguji apakah warna akan pudar atau tidak. Warna dari kain tenun hasil kelompok pengrajin ini akan bertahan selama puluhan tahun tanpa pudar. Motif Amarasi mempunyai warna dasar merah hati. Proses pembuatan motif menggunakan teknik ikat. 1 kain sarung tenun rata-rata memakan waktu hingga 6 bulan untuk proses pembuatannya. Akan tetapi, lamanya proses produksi bisa dipercepat bila permintaan tinggi. Lamanya proses pengerjaan juga dipengaruhi oleh teknik pewarnaan yang mereka pakai. Karena mereka menggunakan teknik alami, dibutuhkan waktu untuk menumbuk bahan-bahan serta pencelupan yang harus dilakukan hingga 11 kali pencelupan.

Proses pembuatan kain sarung tenun dimulai dengan menggulung benang menjadi bentuk gulungan seperti bola. Setelah itu proses kedua adalah menguraikan benang tersebut ke alat yang namanya pemidan, yang dinamakan proses loloh. Setelah benang diuraikan, lalu kemudian dilakukan pengikatan untuk membentuk motif. Benang yang sudah diikat sesuai dengan motif yang diinginkan lalu kemudian direndam dalam campuran air, kemiri dan daun selama 1 minggu. Proses ini dinamakan proses perminyakan. Setelah direndam selama 1 minggu, ikatan benang kemudian dijemur di bawah panas matahari selama 1 minggu hingga benang kering menyeluruh. Setelah dijemur, benang lalu direndam dalam campuran air dan akar mengkudu selama 2 malam. Proses ini adalah untuk memberi warna dasar merah hati. Setelah direndam, benang lalu dijemur selama kurang lebih 11 hari. Proses selanjutnya adalah membuka ikatan benang dan menguraikan benang ke alat tenun untuk selanjutnya dimulai proses tenun.

Kelompok ini sudah mulai dikenal di luar negeri, dengan rata-rata kunjungan ke kelompok ini 2-3 kali dalam setahun. Akan tetapi tidak semuanya melakukan pembelian produk. Sejauh ini, kelompok ini juga tidak menerima permintaan dalam jumlah yang tetap. Hal ini karena walaupun mereka sudah beberapa kali menerima kunjungan calon pembeli dari luar negeri, akan tetapi mereka masih belum tahu cara untuk menjaga kesinambungan kontak dan komunikasi dengan pihak-pihak tersebut guna membuka pasar yang lebih luas. Lebih lanjut, Mama Katrina menyayangkan bahwa perhatian dan dukungan dari dalam negeri justru sangat terbatas. Pemerintah daerah dirasa kurang memberikan dukungan dalam hal pemasaran dan promosi sehingga pembeli dalam negeri tidak mengetahui keberadaan kelompok ini dan produk yang dihasilkannya.