Mendengar kata tenun, pasti anda akan langsung teringat akan keindahan yang khas dari kain asli Indonesia itu. Keindahan tenun muncul tidak hanya disebabkan warnanya saja tetapi juga karena tingkat kesimetrisan tenun itu sendiri dan unsur motif yang ada. Motif merupakan ciri khas atau identitas dari setiap tenun yang dibuat oleh pengrajin. Tidak jarang motif yang terdapat pada kain tenun memiliki cerita tersendiri baik secara adat istiadat, kebiasaan maupun pola perilaku masyarakat. Saat ini, motif tenun yang terdapat di pasaran terlihat kurang variatif dan terkesan monoton, hal tersebut yang mendorong Gerakan Tenunkoe melaksanakan pelatihan pengembangan motif tenun untuk para pengrajin yang tergabung dalam kelompok binaan Yayasan Satu Karsa Karya (Tenunkoe).

Pelatihan pengembangan motif tenun dilaksanakan selama dua hari yakni pada tanggal 26-27 Oktober 2016 berlokasi di Hotel Pelangi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada pelatihan tersebut, hadir sebagai fasilitator adalah Santosa “Cimot” Wibowo , seorang freelance illustrator yang juga bekerja sebagai pengajar di Week End Workshop dan kontributor di Comicrewyuk, sebuah portal digital tentang komik. Untuk peserta, berasal dari enam kelompok desa binaan dengan masing-masing perwakilan tiga orang. Enam kelompok tersebut antara lain kelompok Naubina (Desa Hueknutu), kelompok Tokat Bol (Desa Sillu), kelompok Tol Feu (Desa Nunsaen), kelompok Ie Hari (Kel. Manutapen), kelompok sehati (Kel. Manutapen), dan kelompok Kai Ne’e (Desa Teunbaun). Selain peserta dan fasilitator, tidak ketinggalan hadir pula tiga orang pendamping dari tim program Tenunkoe.

IMG_6706 copy

Pelatihan pengembangan motif tenun tersebut dibagi ke dalam beberapa sesi, diantaranya sesi pengenalan tenun Nusantara, pengembangan motif hingga tindak lanjut kegiatan dari pelatihan itu sendiri. Diawali dengan perkenalan melalui metode games, acara pelatihan disambut secara antusias oleh para peserta. Setelah perkenalan oleh masing-masing peserta, diikuti fasilitator dan pendamping, acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan tenun nusantara oleh Santosa “Cimot” Wibowo sebagai fasilitator. Mas Cimot menjelaskan beberapa tenun Nusantara untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai referensi maupun motivasi para pengrajin dalam berkarya menghasilkan tenun yang variatif baik secara warna maupun motif. Tidak hanya menjelaskan secara lisan, mas Cimot juga menghadirkan penjelasan visual melalui gambar beberapa contoh tenun Nusantara

IMG_6542 copy

Setelah pejelasan oleh Mas Cimot, selanjutnya para pengrajin secara bergantian melalui perwakilan dari setiap kelompok menceritakan terkait motif yang biasa dibuat oleh mereka. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menghadirkan kekayaan motif tenun wilayah NTT sendiri. Cerita dari masing-masing kelompok kemudian dapat menjadi dasar dalam pembuatan motif tenun selanjutnya ataupun sebagai landasan dalam berinovasi dari motif tenun yang sudah terlebih dahulu ada.

Tidak berhenti di situ saja, Mas Cimot memfasilitasi acara pelatihan pengembangan motif tenun tersebut dengan mengajak para pengrajin mencoba mengembangkan motif tenun baru dengan berdasarkan pada kearifan lokal. Sebagai alat bantu dalam memancing kreativitas, maka setiap kelompok diminta untuk mengembangkan cerita yang kemudian dibagikan ke kelompok lain. Setelah sesi tersebut kemudian acara dilanjutkan dengan sesi utama dari pelatihan tersebut, yakni pengembangan motif. Sesi ini menarik minat para peserta menjadi lebih besar. Pada sesi ini, peserta diminta oleh fasilitator untuk mengembangkan motif tenun dari cerita yang sebelumnya telah dikembangkan oleh setiap kelompok. Hasil dari sesi ini adalah hasil secara visual dari para pengrajin berdasarkan cerita yang mereka miliki dituangkan menjadi motif-motif baru.

IMG_6720 copy

IMG_6721 copy

Kurang lebih 16 motif baru yang dikembangkan dari akar budaya lokal terdahulu hadir sebagai hasil dari pelatihan tersebut. Rasa bangga dan haru terpancar dari para pengrajin tenun atas kemampuan mereka dalam mengembangkan motif yang selama ini biasa mereka tenun menjadi motif baru. Pada akhir acara, fasilitator membantu para peserta merumuskan aksi lanjutan paska pelatihan, dimana pada aksi tersebut dapat terlihat implementasi dari para pengrajin terhadap ilmu yang telah diperoleh pada pelatihan tersebut. Harapannya, kreativitas para pengrajin dapat berkembang seiring dengan kemampuan pengembangan motif yang telah diajarkan pada pelatihan pengembangan motif tenun oleh Tenunkoe tersebut.