Awal pekan Februari lalu, Gerakan Tenunkoe akhirnya berkesempatan menyapa para relawan yang tergabung sebagai #SahabatTenunkoe. Dengan bantuan dukungan Estubizi Coworking Space, kita dapat bercengkrama merencanakan apa yang dapat kita lakukan untuk memajukan usaha tenun Mama-mama NTT. Dalam kesempatan ini, kita juga ingin mendekatkan #SahabatTenunkoe satu sama lain.

Sesi awal dibuka dengan perkenalan para #SahabatTenunkoe satu per satu, kemudian disusul dengan perwakilan tim Gerakan Tenunkoe. Dari awal, ternyata mereka antusias berkeinginan membantu Mama-mama NTT memajukan usaha tenun. Dio Putra, salah satu #SahabatTenunkoe mengatakan “Saya tahu dan pernah merasakan betapa susah menjual produk dari daerah ke kota, maka itu saya berkeinginan membantu memajukan usaha tenun Mama-mama NTT.”

DSC00675

Sesi keakraban Temu Sabtu dengan #SahabatTenunkoe berlangsung selama 5 jam itu semakin lama semakin terasa antusias. Berkat inisiatif Volunteer Manager sekaligus Marketing Communication Gerakan Tenunkoe, Kim Marsha; game-game yang ada pada hari itu mampu mendekatkan #SahabatTenunkoe satu sama lain.

Hari menjelang sore, puncak keseriusan terlihat ketika mereka dihadapkan challenge yang harus diselesaikan bersama divisi masing-masing. Mulai dari Market Research, Business Developer dan Communication mereka bejuang menyelesaikan masalah-masalah utama yang dihadapi Mama-mama NTT dalam menjalankan usaha tenunnya. Saat itu, Rana Destrina – #SahabatTenunkoe yang mendaftar sebagai Creative – harus menyelesaikan masalah tanpa tim. Tetapi, ia mampu menyumbang solusi permasalahan Mama-mama NTT dalam produksi.

DSC00854 IMG-20170205-WA0007 DSC00904

 

“Dalam produksi, hanya ada 3 komponen yang bisa dimainkan: warna, bahan dan corak. Untuk tenun, bahan dan corak ini sudah baku karena budaya, Untuk corak dan bahan, kita tidak perlu khawatir, karena keotentikan budaya ini dikagumi oleh orang luar, which is bisa jadi peluang untuk pasar internasional. Komponen yang bisa dimainkan hanyalah warna, karena selera warna inilah yang mendongkrak pasar domestik, terutama di kalangan kota modern seperti Jakarta,” jelas Rana dalam sesi presentasi.

IMG-20170205-WA0008

Para #SahabatTenunkoe mengerti, proses pembuatan tenun yang istimewa dan berbeda dengan kain tekstil nusantara lainnya perlu dipromosikan kepada khalayak umum. Proses panjang sepenuh hati dan penuh makna dibalik motifnya itu nantinya dapat mendongkrak antusiasme publik terhadap kain tenun.

“Pada saat awal, semuanya masih pada malu-malu. Ternyata, semakin sore, teman-teman bisa menjadi dekat dan semangat menyelesaikan challenge di waktu akhir ini. Terima kasih atas kesediaannya #SahabatTenunkoe pada kesempatan kali ini,” tutup Kim di akhir acara sesaat sebelum closing photo session.