Kisah Mama Tersiana, anggota Gerakan Tenunkoe dari Kelompok IeHari

Saya, mama Tersiana, usia 44 tahun penenun di kelompok Iehari. Saya menekuni pekerjaan menenun sudah sejak usia muda hingga sekarang. Karena menenun sudah lama, maka sudah menjadi pekerjaan utama dan menjadi mata pencarian saya.

Mama Tersiana sedang menenun bersama tetangga di teras depan rumahnya
Mama Tersiana sedang menenun bersama tetangga di teras depan rumahnya

Dulu, sebelum ada Gerakan TenunKoe setiap bulan saya dapat menjual 1 sampai dengan 2 lembar kain tenun ukuran bahan pakaian dari benang katun seharga Rp. 200.000,- sehingga setiap bulannya mendapat Rp. 400.000,-. Lewat program Tenunkoe saya mendapatkan banyak sekali pelatihan, antara lain pelatihan mewarnai supaya tidak luntur, memadukan warna-warna serta membuat ukuran tenun yang tetap sama dari ujung ke ujung atau agar tidak “noe-noe”. Setelah mendapat pelatihan, saya praktekkan ilmunya sehingga kain tenun saya menjadi lebih baik, kata orang lebih berkualitas.

Dan juga melalui pendampingan dari YSKK akhirnya kelompok kami mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah serta pihak-phak lainnya. Saat setelah pertemuan dengan Pak Lurah dan Dinas Perindag kota kami di hubungi dari pihak Dekranasda kota utnuk mengikuti pelatihan Manajemen dan semua anggota kelompok Iehari dan Sehati-pun turut serta. Bantuan yang kami rasakan berupa benang dan obat-obatan pun kami sudah dapatkan secara bertahap dan merata ke semua anggota kelompok tenun. Memang awalnya sebelum ada YSKK kami pernah mendapatkan bantuan tapi hanya beberapa orang saja yang merasakan bantuan tersebut. Tapi sekarang semua anggota kelompok merasakan bantuan tersebut.

Sejak tenun menjadi lebih baik, saya berani menawarkan harga lebih tinggi kepada pembeli. Sekarang saya bisa jual 4 lembar kain dalam sebulan dan saya jual Rp. 400.000,-/lembar karena menggunakan benang masarais yaitu benang yang lebih berkualitas dan halus sehingga cocok dan lebih bagus untuk dijadikan baju. Jadi, total penjualan setiap bulannya sekitar Rp. 1.600.000,- dari hasil permintaan koperasi dan toko-toko seni di kupang semakin meningkat maka saya berpikir untuk focus pada pekerjaan pewarnaan dan menenun, sementara itu pekerjaan menggulung benang saya serahkan ke tetangga untuk membantu saya sehingga sebulan saya bisa menghasilkan lebih banyak kain tenun dari yang biasanya 2-3 lembar sekarang bisa mencapai 4-5 lembar. Tetangga yang membantu itu, saya beri upah dari Rp.5000-15.000 ribu/gulung.

Saya sangat senang bisa membantu para perempuan muda usia SLTA yang sudah membantu menggulung benang walaupun hanya sedikit dan hanya sekedar memberi mereka uang pulsa. Dengan begitu mereka yang ada di sekitar rumah saya ataupun anak tetangga ini tertarik untuk belajar menenun meskipun belum secara penuh waktu. Namun lama kelamaan mereka pasti mahir dan kelak akan meneruskan warisan nenek moyang ini ketika saya sudah tua dan tidak kuat untuk menenun