ragam-hias-tenun-ntt

Dari sekian banyak kain tradisional yang ada di lemarimu, adakah kain tradisional tenun? Khusunya tenun NTT yang pada kali ini akan kami bahas. Corak ragam (motif) hias dari setiap kain yang mulai mendunia ini ternyata memiliki arti dan tergolong dalam beberapa kelompok. Pada suku (daerah) tertentu, motif binatang atau manusia lebih banyak ditonjolkan. Misalnya pada daerah Sumba Timur, disana menggunakan motif binatang (rusa, singa, kuda), tengkorak bahkan corak manusia (berbentuk orang-orangan) pada tenun buatannya. Selain itu masih banyak daerah yang memiliki makna motif hias yang unik. Berikut beberapa ragam motif hias pada tenun ikat khas NTT :

Ragam Hias Flora

Pada ragam hias flora, motif tumbuhan lebih ditonjolkan dengan aksen flora yang kuat. Ragam hias ini biasanya disukai oleh para kaum wanita yang menyukai kelembutan dan ketenangan. Sisi feminim terlihat dari motif ini, namun tidak menutup kemungkinan para lelaki menggunakannya karena motifnya yang apik.

Ragam Hias Geometri

Ragam hias ini menggambarkan motif kerucut, setengah jajaran genjang, segitiga dan bentuk-bentuk gambar dua dimensi lainnya. Gambar dimensi ini menerangkan ketegasan. Dari motif ini tercermin orang yang menggunakan memiliki sifat tegas dalam menjalani kehidupan sehari –hari.

Ragam Hias Zoomorpic

Bentuk fauna mendominasi ragam hias zoomorpic. Sesuai dengan namanya “zoo” yang memiliki arti kebun binatang, pada motif ini tampilan gambar binatang menjadi utama. Mulai dari binatang melata hingga unggas.

Ragam Hias Replika

Nama lain dari ragam hias replica adalah ragam hias kain Patola yang berasal dari India. Karena corak (motif) pada kain ragam tersebut memiliki kemiripan dengan ragam hias kain Patola yang terkenal di negeri Bollywood tersebut.

Ragam Hias Antropomorph

Bentuk manusia atau figure dari manusia menjadi focus utama dalam motif (corak) hias kain ini.

Selain ragam hias diatas, ada pula ragam hias yang cukup dikenal di dunia fashion kain tradisional, yakni ragam hias tenun suku Rote Ndao. Mayarakat Rote Ndao membuat motif tenun dengan menirukan (secara cermat) warna kulit buaya. Dengan menggunakan kombinasi dari struktur pola Patola (India), ragam hias kain tenun suku Rote Ndao terdiri dari bentuk geometri (segitiga, kerucut), tangkai bunga (dula bunak), rumput laut (dula latu dok), kembang delapan (dula nggeok), pohon (dula aik) dan dula oendik yaitu setengah jajaran genjang.

Masyarakat Rote Ndao menggunakan kain tenun tidak sebagai busana sehari-hari melainkan digunakan dalam acara besar. Biasanya mereka membuat busana harian tanpa motif bunga, ketika belum ada tekstil yang dapat diperoleh.

Selain keunikan akan motif/ragam hiasnya, kain tenun juga memiliki arti simbolis dari setiap ragam hias tersebut. Tak hanya sebagai dekorasi semata, motif kain tenun menjadi manifestasi dari kehidupan pribadi mereka sebagai simbol. Warna juga ikut ambil bagian dalam kepemilikan arti, seperti misalnya warna hitam yang memiliki arti duka, marah berarti kejantanan, putih kesucian, biru kedamaian, hijau sebagai kesuburan dan kuning sebagai bentuk symbol kebahagiaan.